<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>keramik88 &#187; Kisah Sukses di Keramik</title>
	<atom:link href="http://keramik88.com/category/kisah-sukses-di-keramik/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://keramik88.com</link>
	<description>belajar keramik, tutorial</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Jun 2010 06:50:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sukses dengan Mozaik Keramik</title>
		<link>http://keramik88.com/kisah-sukses-di-keramik/rosita-agustina-sukses-dengan-mozaik-keramik.html</link>
		<comments>http://keramik88.com/kisah-sukses-di-keramik/rosita-agustina-sukses-dengan-mozaik-keramik.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 15:27:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>keramik88</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sukses di Keramik]]></category>
		<category><![CDATA[Sukses dengan Mozaik Keramik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keramik88.com/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis oleh : F Lenny K
Di tangan Rosita, pecahan keramik yang biasanya dibuang,  bisa menjadi barang bernilai seni tinggi.  Ikuti perjalanan kreatif Rosita Agustini ini.
Keramik biasanya dipakai untuk menghias dinding atau lantai rumah. Itupun harus dipilih yang masih mulus dan tidak cacat.  Kalau ada yang patah atau terpotong sebagian, pasti tidak akan dipakai.
Tapi kalau Anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis oleh : F Lenny K</p>
<div id="attachment_680" class="wp-caption alignnone" style="width: 275px"><img class="size-full wp-image-680" title="bersama-hasil-karya-pasang" src="http://keramik88.com/wp-content/uploads/2009/08/bersama-hasil-karya-pasang.jpg" alt="." width="265" height="198" /><p class="wp-caption-text">.</p></div>
<p>Di tangan Rosita, pecahan keramik yang biasanya dibuang,  bisa menjadi barang bernilai seni tinggi.  Ikuti perjalanan kreatif Rosita Agustini ini.</p>
<p><em><strong>Keramik</strong></em> biasanya dipakai untuk menghias dinding atau lantai rumah. Itupun harus dipilih yang masih mulus dan tidak cacat.  Kalau ada yang patah atau terpotong sebagian, pasti tidak akan dipakai.</p>
<p>Tapi kalau Anda lihat workshop Kreamoz Art di Pancoran Mas Depok, justru kebalikan. Puing pecahan keramik dengan bentuk yang tidak beraturan, dibuat menjadi  mozaik bernilai tinggi. Pot, lukisan, atau dinding rumah menjadi lebih indah dan artistik.</p>
<p>Diakui Rosita, memang sejak kecil dia sudah senang dengan kerajinan apa saja. Setiap mengerjakan tugas keterampilan di sekolah, ia selalu mendapat nilai bagus. &#8220;Mungkin bakat seni mengalir <span id="more-678"></span>dari orang tua yang pekerjaannya menjahit,&#8221; jelas Rosita.</p>
<p>Sebelum terjun ke mozaik, ia dan suami, Soediyantono, membuka restoran di daerah Cawang. Tapi karena terkena pelebaran jalan, ia akhirnya pindah rumah di daerah Depok. Karena pada dasarnya tidak bisa diam, ia sempat ikut beberapa kursus untuk mencari peluang usaha. Kursus yang ia ikuti antara lain:  menjahit,  salon , dan kursus memasak. Dari kursus-kursus itu, ia merasa belum ada yang cocok di hati untuk dijalani.</p>
<div id="attachment_681" class="wp-caption alignnone" style="width: 200px"><img class="size-full wp-image-681" title="kendi-besar-pasang" src="http://keramik88.com/wp-content/uploads/2009/08/kendi-besar-pasang.jpg" alt="." width="190" height="227" /><p class="wp-caption-text">.</p></div>
<p>Ia tertarik pada mozaik setelah sering melihat puing keramik berserakan. Sisa keramik yang beraneka warna itu membuat dirinya terinspirasi untuk memanfaatkannya.  Maka mulailah ia mengumpulkan puing <em>keramik</em> untuk dibuat eksperimen. Butuh sekitar 2 tahun  untuk eksperimen mulai dari cara memecah <em>keramik</em>, membentuk dan menempel <em>keramik</em> pada media.</p>
<p>Pertama kali mozaik yang dibuat adalah pot, dengan motif batik. Setelah jadi ada tetangga yang tertarik dan membelinya dengan harga Ro 20 ribu.&#8221;Walaupun murah, tapi saya cukup puas karena ternyata mozaik dihargai orang,&#8221; jelas ibu 2 anak ini. Waktu itu tahun 2003.</p>
<p>Tidak puas dengan pot, ia juga membuat kreasi mozaik untuk lukisan, dinging kamar mandi, teras dan masih banyak lagi. Dengan terus belajar dan belajar, karya mozaiknya mulai dikenal orang. Untuk pot, ia menjual mulai dari harga Rp 17,500 sampai Rp 500 ribu.  Sedangkan lukisa mozaiknya dibandrol dari Rp 1 juta &#8211; Rp 5 juta.</p>
<p>Jalan hidupnya mulai mendapat energi baru ketika ia masuk IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha) Cabang Depok. Selain mendapat informasi dan masukan seputar bisnis, ia juga mulai ikut pameran. Dari pameran ke pameran itu, ia banyak sekali mendapat pembeli dan pelanggan baru.</p>
<p>Moment yang tidak terlupakan adalah tahun 2006, ketika ia mendapat kepercayaan artis Meriem Bellna untuk mempercantik rumahnya dengan mozaik. Hampir semua sudut rumah Meriem mendapat sentuhan mozaik. Mulai dari teras, dinding, kamar mandi, sampai tempat sampah. &#8220;Selama 2 bulan saya dibantu 6 karyawan mengerjakan rumahnya,&#8221; jelas Rosita bangga. Ia juga pernah mendapat pesanan  mozaik pot sebanyak 100 bh untuk hotel, dan harus selesai dalam waktu 1 minggu. Karena waktunya sedikit, ia mengajak 100 remaja tetangganya untuk membantu mengerjakan pesanan itu.<br />
Karena banyak teman dan tetangga yang ingin belajar, ia juga membuka kursus membuat mozaik di workshopnya. &#8220;Saya justru senang kalau banyak yang bisa membuat mozaik ini, supaya rumah dan taman mereka menjadi indah semua,&#8221; jelas Rosita yang sedang mempersiapkan penerbitan buku tentang mozaik ini.</p>
<p>Disalin dari:</p>
<p>http://klubnova.tabloidnova.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=176&amp;Itemid=68</p>
<p><a href="http://www.ziddu.com/download/8624145/SuksesdenganMozaikKeramik.pdf.html"><img class="alignnone size-full wp-image-1235" title="download link" src="http://keramik88.com/wp-content/uploads/2010/02/download-link.gif" alt="download link" width="127" height="34" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keramik88.com/kisah-sukses-di-keramik/rosita-agustina-sukses-dengan-mozaik-keramik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bocah Jepang Belajar Keramik</title>
		<link>http://keramik88.com/kisah-sukses-di-keramik/bocah-jepang-belajar-seni-keramik.html</link>
		<comments>http://keramik88.com/kisah-sukses-di-keramik/bocah-jepang-belajar-seni-keramik.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 13:54:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>keramik88</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sukses di Keramik]]></category>
		<category><![CDATA[Bocah Jepang Belajar Seni Keramik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keramik88.com/?p=674</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 8 Januari 2009 &#124; 15:25 WIB
Empat bocah asal Jepang tampak antusias menyimak kata-kata seniman keramik, Jenny Lee, yang juga guru seni keramik Sekolah Jepang Surabaya. Bocah siswa kelas tiga dan empat SD terlihat tekun mengikuti kegiatan bertajuk &#8220;Surabaya Time&#8221; yang memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada anak-anak Negeri Sakura itu, khususnya seni keramik, tari, dan batik.
&#8220;Program [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamis, 8 Januari 2009 | 15:25 WIB</p>
<p>Empat bocah asal Jepang tampak antusias menyimak kata-kata seniman keramik, Jenny Lee, yang juga guru seni keramik Sekolah Jepang Surabaya. Bocah siswa kelas tiga dan empat SD terlihat tekun mengikuti kegiatan bertajuk &#8220;Surabaya Time&#8221; yang memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada anak-anak Negeri Sakura itu, khususnya seni keramik, tari, dan batik.</p>
<p>&#8220;Program Surabaya Time itu merupakan kegiatan memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada anak-anak Jepang yang belajar di Sekolah Jepang Surabaya sesuai dengan ketertarikan dan minat mereka kepada kebudayaan Indonesia,&#8221; kata guru kelas tiga Sekolah Jepang Surabaya, Kanazawa Shinya, didampingi Eko Karyano, Manajer Bisnis Sekolah Jepang Surabaya, Rabu (7/1) di Studio Keramik Jenny Lee, Jalan Mastrip Bogangin 21, Surabaya.</p>
<p>Jenny Lee yang sejak dua bulan lalu menjadi pengajar<span id="more-674"></span> seni keramik di Sekolah Jepang Surabaya dengan sabar membimbing keempat bocah tersebut mengenal lebih jauh tentang proses pembakaran keramik dalam tungku hingga proses glasir atau pewarnaan pada keramik.</p>
<p>&#8220;Jangan terlampau tebal karena keramik yang sudah diproses setengah matang itu mudah menyerap bahan pewarna. Jadi, tipis-tipis saja saat mengglasir keramik itu biar saat proses pembakaran tidak gampang pecah,&#8221; kata perupa Agus &#8220;Koecink&#8221; Soekamto kepada bocah Jepang yang sedang mengglasir keramik.</p>
<p>Bocah-bocah asal Jepang itu tak saja mendapat pengetahuan singkat tentang cara menata keramik di dalam tungku pembakaran, tetapi juga bagaimana membuat muk, mangkuk, atau daun dari bahan stoneware, earthernware, dan porselen hingga mewarnai keramik dengan citra-citra gambar atau lukisan yang indah.</p>
<p>&#8220;Sebelum diglasir, keramik itu terlebih dahulu harus dibersihkan, jangan sampai ada debu yang menempel. Setelah diglasir dan digambar, baru diproses pembakaran dalam tungku dengan suhu 1.200 derajat Celsius,&#8221; ucap Jenny Lee, alumnus ISI Yogyakarta.</p>
<p>Keempat bocah Jepang itu sesekali mengusap tangannya yang belepotan bahan pewarna atau glasir. Sesekali pula mereka mengelap keramik yang belepotan menggunakan spon basah. Sebab, keramik yang belepotan itu amat mengganggu tatkala hendak digambar dengan ornamen-ornamen. &#8220;Setelah bersih dan tidak belepotan, baru kita gambar atau lukis,&#8221; kata Jenny Lee.</p>
<p>Nito Kimihiko, salah seorang siswa kelas IV, yang tertarik belajar membuat keramik mengatakan, Indonesia memiliki peralatan makan yang bermacam-macam, baik model maupun bentuknya, seperti piring, mangkuk, dan muk. &#8220;Saya ingin tahu bagaimana cara membuatnya karena itu saya tertarik untuk belajar seni keramik dan senang bisa belajar langsung di studionya Bu Jenny,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Sumber asli :</p>
<p>http://koran.kompas.com/read/xml/2009/01/08/1525374/.bocah.jepang.belajar.seni.keramik</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keramik88.com/kisah-sukses-di-keramik/bocah-jepang-belajar-seni-keramik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tinggalkan Kerja Kantoran, Bisnis Keramik</title>
		<link>http://keramik88.com/kisah-sukses-di-keramik/tinggalkan-kerja-kantoran-terjun-ke-bisnis-pembuatan-keramik.html</link>
		<comments>http://keramik88.com/kisah-sukses-di-keramik/tinggalkan-kerja-kantoran-terjun-ke-bisnis-pembuatan-keramik.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 13:46:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>keramik88</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sukses di Keramik]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis Pembuatan Keramik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keramik88.com/?p=669</guid>
		<description><![CDATA[KEINDAHAN alam bawah laut mengundang decak kagum seorang gadis bernama Kurniawaty Gautama (30). Keindahan itulah yang ia tuangkan setiap kali membuat keramik, hobi yang telah lima tahun belakangan ini ia tekuni. Pasti ada saja penghuni alam laut yang menjadi pokok perhatiannya, seperti; bintang laut, terumbu karang, ubur-ubur dan pastinya ikan-ikan aneka bentuk dan warna.
Seperti keramik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_671" class="wp-caption alignnone" style="width: 350px"><img class="size-full wp-image-671" title="kurniawaty-gautama" src="http://keramik88.com/wp-content/uploads/2009/08/kurniawaty-gautama.gif" alt="Kurniawaty Gautama" width="340" height="215" /><p class="wp-caption-text">Kurniawaty Gautama</p></div>
<p>KEINDAHAN alam bawah laut mengundang decak kagum seorang gadis bernama Kurniawaty Gautama (30). Keindahan itulah yang ia tuangkan setiap kali membuat keramik, hobi yang telah lima tahun belakangan ini ia tekuni. Pasti ada saja penghuni alam laut yang menjadi pokok perhatiannya, seperti; bintang laut, terumbu karang, ubur-ubur dan pastinya ikan-ikan aneka bentuk dan warna.<br />
Seperti keramik yang ia pajang pada meja tamunya, pemandangan laut ukuran 10&#215;10 yang ia buat dengan teknik slab (teknik membuat keramik dengan memotong menjadi beberapa bagian yang sama besar kemudian dihiasi dengan gambar) seakan menunjukkan ketekunannya menggambar di atas keramik.<br />
Menggambar lebih dulu ia kuasai sehingga ketika ia harus menggambar di atas keramik bukan sesuatu<span id="more-669"></span> yang susah. Dan ikan adalah mahluk yang paling sering muncul sebagai cerminan ekspresinya dalam seni mengolah tanah liat ini. Ikan dalam keramiknya kebanyakan dibuat dengan teknik pinch (membentuk dengan menekan tanah liat) dan slab. Selain mahluk alam laut, ia kerap memunculkan gambar legenda putri duyung sebagai pelengkap.</p>
<p>Tak heran jika pada satu rangkaian keramik slab yang dibuatnya hampir terdiri dari tiga unsur alam laut seperti ikan, tumbuhan dasar laut dan putri duyung. Selain warna tanah yang ia munculkan, ada beberapa warna yang hasil eksperimennya sendiri. Selain membuat keramik dengan gambar penuh pada keramik dengan teknik slab ia juga membuat kepingan kecil secara utuh penghuni alam laut seperti bintang laut, kerang, bulu babi dan sebagainya.</p>
<p>Mahluk alam laut yang dibuatnya dengan ukuran kecil inilah katanya lumayan mempunyai nilai jual. Namun begitu, tambahnya, dalam berkarya komersil bukanlah tujuan utamanya.“Uang dari penjualan hasil keramik bukan sesuatu yang penting buat saya, tetapi proses dari pembuatan keramiknya itu sendiri,” tutur penikmat Khalil Gibran ini. Ia menjelaskan bahwa dengan mengenal keramik sebenarnya ia menjadi lebih tahu jati diri dan menggali potensi alam.</p>
<p>“Dengan belajar keramik berarti saya jadi tahu jenis tanah dan sebagainya”.<br />
Itu sebabnya semakin mendalami keramik ia semakin jatuh hati. Selain terus mengasah kemampuannya berkeramik, Kurniwaty juga memamerkan produknya di berbagai acara. Kini masyarakat bisa mengapreasiasikan keramiknya dengan nominal. Tetapi ia sendiri, katanya, tidak mau terlalu jauh memproduksi barang keramik yang komersial. “Nanti saya kehilangan waktu untuk berkreasi sesuai keinginan sendiri,” begitu alasannya.</p>
<p>Mungkin karena hobi, maka dara mungil ini mengerjakan segala sesuatunya dengan enjoy. Namun bukan berarti dia tak pernah mengalami peristiwa menyebalkan. Yang paling membuatnya jengkel bila hasil pembakaran keramiknya ternyata tidak seperti yang diharapkan.</p>
<p>“Saya paling sebel kalau hasil bakar keramiknya jelek,” cetusnya. Ia juga bisa senewen kalau apa yang sudah dikerjakannya gagal total. “Saya pernah bikin sudah jadi dan besar tetapi rubuh karena tertiup angin. Sampai sekarang saya nggak pernah buat yang seperti itu lagi,” ceritanya geram.</p>
<p>Belum lagi soal pewarnaan yang kadang membuatnya jenuh. “Hasil warna yang jelek juga kadang bikin saya kesal. Habis tidak seperti yang harapkan,” keluhnya. Tapi Itu hanya ‘kerikil kecil’ dalam menekuni hobinya. Tidak ada artinya dibanding kenikmatan yang dia dapat dari hobinya itu. Tak heran jika Nia mengaku keramik kerap menjadi sarana untuk menumpahkan perasaannya, saat ia senang maupun gundah terhadap ketidakadilan hidup. Sama seperti kesukaannya memandang isi laut yang sering menjadi model keramiknya.</p>
<p>Koleksi Tanah dan Pasir</p>
<p>Dari tidak tahu, menjadi suka bahkan cinta mati. Itulah gambaran kecintaan Nia terhadap keramik. Selain senang main-main dengan tanah liat, setelah mempelajari keramik pengetahuannya bertambah. Puas karena kreasinya, bangga karena wawasannya bertambah, begitulah Nia memandang keramik saat ini. Bayangkan jika sebelumnya ia tak peduli dengan tanah, kini kemanapun ia pergi yang diperhatikannya adalah tanah. Jadi wajar, kalau semenjak mengenal keramik Nia juga mengoleksi beberapa pasir dan tanah.</p>
<p>“Waktu saya ke Singapura, saya ambil tanahnya. Ketika teman ke Amerika, padanya saya titip dibawakan pasir,” ujar Nia yang punya tanah dari Malaka. Sementara pasir ia koleksi berasal dari Ujung Kulon, Pulau Sepa Kep.Seribu, Bali, Lombok, Santa Monica Amerika, Santa Barbara Amerika.</p>
<p>Tidak hanya pasir dan tanah yang dijadikan eksperimen pembuatan keramiknya. Nia juga punya abu rokok, abu obat nyamuk, daun-daun kering, kulit jeruk, mawar, kunyit yang dipakai untuk proses pewarnaan. Semua itu ia temukan seiring ia mempelajari keramik. “Saya jadi tambah pengetahuan sejak belajar keramik. Karena itu saya jadi sangat tertarik untuk terus mendalami keramik,” ujarnya. Keramik sangat multi disiplin ilmu, begitulah yang dirasakan Nia. Karena itu pula ia berencana belajar pewarnaan keramik di Singapura untuk melengkapi pengetahuan keramiknya. ***korantokoh</p>
<p>Awalnya tak Tertarik</p>
<p>PERTAMAKALI melihat keramik, Kurniawaty Gautama tak punya kesan mendalam. Baginya keramik tak lebih dari barang mati yang sering dilihatnya sebagai pajangan. Meski demikian ada rasa penasaran di hatinya, ingin tahu bagaimana caranya membuat keramik. Dari situlah Nia memulai perjalanan panjangnya mengenal keramik. Hingga pada tahun 1998 ia terdampar pada sebuah kursus keramik dan berguru pada keramikus handal yang kesohor Keng Sien.</p>
<p>Dari Keng Sien lah, Nia mengenal A sampai Z-nya keramik. Jika saja ia tidak mengenal keramik barangkali karirnya di bidang periklanan masih dilakoninya. Tetapi ia tetap memilih menekuni seni mengolah tanah ini meski disadarinya banyak kesulitan yang harus dihadapinya. Bagi pehobi traveling ini, tidak mudah untuk memutuskan perhatian hidupnya pada keramik. Ia harus bergulat pada pertimbangan apakah ia berkeramik hanya sekadarnya saja dan melanjutkan kerja atau total berkarya keramik dengan segala risikonya. Pilihan yang dilematis tentunya.</p>
<p>Masukan tidak hanya datang dari pihak keluarga, sahabat-sahabatnya juga mengingatkan bahwa hidup berkesenian harus siap menjadi gembel. Ia juga mempelajari kehidupan para seniman dunia seperti Van Goh Akhirnya Nia memilih keramik sebagai jalan hidupnya. Artinya ia harus siap menjalani semua risiko pilihannya itu.</p>
<p>Saat-saat pertama menggeluti keramik sempat juga terpikir, bagaimana kalau sampai kehabisan uang, baik untuk hidupnya maupun untuk melanjutkan seni keramiknya. Tapi cepat-cepat ia tepis pikiran semacam itu. Tekadnya sudah bulat akan mencurahkan seluruh waktunya untuk berkreasi di bidang pembuatan keramik. “Apapun risikonya saya ambil,” tegasnya.</p>
<p>Beruntung Nia, karena masih tinggal bersama orangtua sehingga beban sedikit berkurang. Apalagi akhirnya dorongan dari ketiga adiknya sudah didapatkannya, serta teman-teman dekatnya sudah mulai memahami pilihan hidupnya. Maka yang ada sekarang adalah bagaimana mewujudkan idealismenya. Selain itu ia juga menyiasati godaan hidup dengan mengalihkan perhatian pada hal-hal imateril seperti kepuasan batin. “Kalau yang kita pikirkan materi melulu bisa stress. Tetapi kalau bisa berkarya dan memuaskan batin, rasanya itu jadi tidak sepadan lagi,” paparnya.</p>
<p>Nyatanya hidup Nia terus mengalir. Upaya memamerkan hasil karyanya di tiga galeri di Jakarta juga sedikitnya bisa membantu Nia meraih apa yang diinginkannya. Sebulan sekali ia mengecek barang-barangnya. Kalau ada yang terjual ia segera mengganti dengan yang baru.</p>
<p>Sementara itu ia masih terus berlatih ketrampilannya mengolah tanah liat. Ia berharap suatu saat bisa menghasilkan karya agung. Di antaranya adalah membuat keramik dalam ukuran besar.“Punya studio sendiri dan buat lukisan keramik yang monumental di satu gedung adalah keinginan saya dalam beberapa waktu ke depan ini,” jelasnya. Nia kini sangat menikmati pilihan hidupnya: keramik. ***korantokoh</p>
<p>Disalin dari :</p>
<p>http://www.matabumi.com/bisnis/tinggalkan-kerja-kantoran-terjun-ke-bisnis-pembuatan-keramik</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keramik88.com/kisah-sukses-di-keramik/tinggalkan-kerja-kantoran-terjun-ke-bisnis-pembuatan-keramik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
