Visitor Keramik88


View My Stats

Grosir PIN

PIN

Mesin Press Kaos & MUG

Flat-Heat-Press-Machine-CE

Slider

[cycloneslider id="slider1"]

Tinggalkan Kerja Kantoran, Bisnis Keramik

Advertisment
Kurniawaty Gautama

Kurniawaty Gautama

KEINDAHAN alam bawah laut mengundang decak kagum seorang gadis bernama Kurniawaty Gautama (30). Keindahan itulah yang ia tuangkan setiap kali membuat keramik, hobi yang telah lima tahun belakangan ini ia tekuni. Pasti ada saja penghuni alam laut yang menjadi pokok perhatiannya, seperti; bintang laut, terumbu karang, ubur-ubur dan pastinya ikan-ikan aneka bentuk dan warna.
Seperti keramik yang ia pajang pada meja tamunya, pemandangan laut ukuran 10×10 yang ia buat dengan teknik slab (teknik membuat keramik dengan memotong menjadi beberapa bagian yang sama besar kemudian dihiasi dengan gambar) seakan menunjukkan ketekunannya menggambar di atas keramik.
Menggambar lebih dulu ia kuasai sehingga ketika ia harus menggambar di atas keramik bukan sesuatu yang susah. Dan ikan adalah mahluk yang paling sering muncul sebagai cerminan ekspresinya dalam seni mengolah tanah liat ini. Ikan dalam keramiknya kebanyakan dibuat dengan teknik pinch (membentuk dengan menekan tanah liat) dan slab. Selain mahluk alam laut, ia kerap memunculkan gambar legenda putri duyung sebagai pelengkap.

Tak heran jika pada satu rangkaian keramik slab yang dibuatnya hampir terdiri dari tiga unsur alam laut seperti ikan, tumbuhan dasar laut dan putri duyung. Selain warna tanah yang ia munculkan, ada beberapa warna yang hasil eksperimennya sendiri. Selain membuat keramik dengan gambar penuh pada keramik dengan teknik slab ia juga membuat kepingan kecil secara utuh penghuni alam laut seperti bintang laut, kerang, bulu babi dan sebagainya.

Mahluk alam laut yang dibuatnya dengan ukuran kecil inilah katanya lumayan mempunyai nilai jual. Namun begitu, tambahnya, dalam berkarya komersil bukanlah tujuan utamanya.“Uang dari penjualan hasil keramik bukan sesuatu yang penting buat saya, tetapi proses dari pembuatan keramiknya itu sendiri,” tutur penikmat Khalil Gibran ini. Ia menjelaskan bahwa dengan mengenal keramik sebenarnya ia menjadi lebih tahu jati diri dan menggali potensi alam.

“Dengan belajar keramik berarti saya jadi tahu jenis tanah dan sebagainya”.
Itu sebabnya semakin mendalami keramik ia semakin jatuh hati. Selain terus mengasah kemampuannya berkeramik, Kurniwaty juga memamerkan produknya di berbagai acara. Kini masyarakat bisa mengapreasiasikan keramiknya dengan nominal. Tetapi ia sendiri, katanya, tidak mau terlalu jauh memproduksi barang keramik yang komersial. “Nanti saya kehilangan waktu untuk berkreasi sesuai keinginan sendiri,” begitu alasannya.

Mungkin karena hobi, maka dara mungil ini mengerjakan segala sesuatunya dengan enjoy. Namun bukan berarti dia tak pernah mengalami peristiwa menyebalkan. Yang paling membuatnya jengkel bila hasil pembakaran keramiknya ternyata tidak seperti yang diharapkan.

“Saya paling sebel kalau hasil bakar keramiknya jelek,” cetusnya. Ia juga bisa senewen kalau apa yang sudah dikerjakannya gagal total. “Saya pernah bikin sudah jadi dan besar tetapi rubuh karena tertiup angin. Sampai sekarang saya nggak pernah buat yang seperti itu lagi,” ceritanya geram.

Belum lagi soal pewarnaan yang kadang membuatnya jenuh. “Hasil warna yang jelek juga kadang bikin saya kesal. Habis tidak seperti yang harapkan,” keluhnya. Tapi Itu hanya ‘kerikil kecil’ dalam menekuni hobinya. Tidak ada artinya dibanding kenikmatan yang dia dapat dari hobinya itu. Tak heran jika Nia mengaku keramik kerap menjadi sarana untuk menumpahkan perasaannya, saat ia senang maupun gundah terhadap ketidakadilan hidup. Sama seperti kesukaannya memandang isi laut yang sering menjadi model keramiknya.

Koleksi Tanah dan Pasir

Dari tidak tahu, menjadi suka bahkan cinta mati. Itulah gambaran kecintaan Nia terhadap keramik. Selain senang main-main dengan tanah liat, setelah mempelajari keramik pengetahuannya bertambah. Puas karena kreasinya, bangga karena wawasannya bertambah, begitulah Nia memandang keramik saat ini. Bayangkan jika sebelumnya ia tak peduli dengan tanah, kini kemanapun ia pergi yang diperhatikannya adalah tanah. Jadi wajar, kalau semenjak mengenal keramik Nia juga mengoleksi beberapa pasir dan tanah.

“Waktu saya ke Singapura, saya ambil tanahnya. Ketika teman ke Amerika, padanya saya titip dibawakan pasir,” ujar Nia yang punya tanah dari Malaka. Sementara pasir ia koleksi berasal dari Ujung Kulon, Pulau Sepa Kep.Seribu, Bali, Lombok, Santa Monica Amerika, Santa Barbara Amerika.

Advertisment

Tidak hanya pasir dan tanah yang dijadikan eksperimen pembuatan keramiknya. Nia juga punya abu rokok, abu obat nyamuk, daun-daun kering, kulit jeruk, mawar, kunyit yang dipakai untuk proses pewarnaan. Semua itu ia temukan seiring ia mempelajari keramik. “Saya jadi tambah pengetahuan sejak belajar keramik. Karena itu saya jadi sangat tertarik untuk terus mendalami keramik,” ujarnya. Keramik sangat multi disiplin ilmu, begitulah yang dirasakan Nia. Karena itu pula ia berencana belajar pewarnaan keramik di Singapura untuk melengkapi pengetahuan keramiknya. ***korantokoh

Awalnya tak Tertarik

PERTAMAKALI melihat keramik, Kurniawaty Gautama tak punya kesan mendalam. Baginya keramik tak lebih dari barang mati yang sering dilihatnya sebagai pajangan. Meski demikian ada rasa penasaran di hatinya, ingin tahu bagaimana caranya membuat keramik. Dari situlah Nia memulai perjalanan panjangnya mengenal keramik. Hingga pada tahun 1998 ia terdampar pada sebuah kursus keramik dan berguru pada keramikus handal yang kesohor Keng Sien.

Dari Keng Sien lah, Nia mengenal A sampai Z-nya keramik. Jika saja ia tidak mengenal keramik barangkali karirnya di bidang periklanan masih dilakoninya. Tetapi ia tetap memilih menekuni seni mengolah tanah ini meski disadarinya banyak kesulitan yang harus dihadapinya. Bagi pehobi traveling ini, tidak mudah untuk memutuskan perhatian hidupnya pada keramik. Ia harus bergulat pada pertimbangan apakah ia berkeramik hanya sekadarnya saja dan melanjutkan kerja atau total berkarya keramik dengan segala risikonya. Pilihan yang dilematis tentunya.

Masukan tidak hanya datang dari pihak keluarga, sahabat-sahabatnya juga mengingatkan bahwa hidup berkesenian harus siap menjadi gembel. Ia juga mempelajari kehidupan para seniman dunia seperti Van Goh Akhirnya Nia memilih keramik sebagai jalan hidupnya. Artinya ia harus siap menjalani semua risiko pilihannya itu.

Saat-saat pertama menggeluti keramik sempat juga terpikir, bagaimana kalau sampai kehabisan uang, baik untuk hidupnya maupun untuk melanjutkan seni keramiknya. Tapi cepat-cepat ia tepis pikiran semacam itu. Tekadnya sudah bulat akan mencurahkan seluruh waktunya untuk berkreasi di bidang pembuatan keramik. “Apapun risikonya saya ambil,” tegasnya.

Beruntung Nia, karena masih tinggal bersama orangtua sehingga beban sedikit berkurang. Apalagi akhirnya dorongan dari ketiga adiknya sudah didapatkannya, serta teman-teman dekatnya sudah mulai memahami pilihan hidupnya. Maka yang ada sekarang adalah bagaimana mewujudkan idealismenya. Selain itu ia juga menyiasati godaan hidup dengan mengalihkan perhatian pada hal-hal imateril seperti kepuasan batin. “Kalau yang kita pikirkan materi melulu bisa stress. Tetapi kalau bisa berkarya dan memuaskan batin, rasanya itu jadi tidak sepadan lagi,” paparnya.

Nyatanya hidup Nia terus mengalir. Upaya memamerkan hasil karyanya di tiga galeri di Jakarta juga sedikitnya bisa membantu Nia meraih apa yang diinginkannya. Sebulan sekali ia mengecek barang-barangnya. Kalau ada yang terjual ia segera mengganti dengan yang baru.

Sementara itu ia masih terus berlatih ketrampilannya mengolah tanah liat. Ia berharap suatu saat bisa menghasilkan karya agung. Di antaranya adalah membuat keramik dalam ukuran besar.“Punya studio sendiri dan buat lukisan keramik yang monumental di satu gedung adalah keinginan saya dalam beberapa waktu ke depan ini,” jelasnya. Nia kini sangat menikmati pilihan hidupnya: keramik. ***korantokoh

Disalin dari :

http://www.matabumi.com/bisnis/tinggalkan-kerja-kantoran-terjun-ke-bisnis-pembuatan-keramik

Advertisment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan Artikel

Artikel baru akan selalu dikirim ke Email anda bila mendaftar, isi alamat Email yang benar, klik Daftar. Setelah itu cek Email anda untuk konfirmasi dengan klik link yang dikirim. Untuk lebih jelasnya, lihat "Cara Daftar" diatas

Masukkan alamat Email:

Delivered by FeedBurner

Video keramik88